Mingg, 06 Oktober 2017
MENGUKUR
KESEGARAN JASMANI
Ada dua manfaat atau maksud mengapa kita mengukur
kesegaran jasmani seseorang.
- Untuk
mengetahui kondisi/status kesegaran jasmani seseorang, sekaligus
menentukan program latihan yg sesuai untuk memelihara atau meningkatkan
kesegaran jasmani
- Untuk
mengevaluasi keberhasilan maupun kegagalan program latihan fisik.
Beberapa bentuk tes dan pengukuran dapat digunakan untuk
mengukur atau mengetes kesegaran jasmani seseorang secara sederhana dan dapat
dipakai sebagai penentu bagi siapa saja yang menginginkannya.
Pengertian Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah kemampuan tubuh seseorang
untuk melakukan tugas pekerjaan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang
berarti. Untuk dapat mencapai kondisi kesegaran jasmani yang prima seseorang
perlu melakukan latihan fisik yang melibatkan komponen kesegaran jasmani dengan
metode latihan yang benar.
Komponen Kesegaran Jasmani
Kesegaran Jasmani terdiri dari beberapa komponen,
yaitu:
1.
Daya tahan kardiovaskuler atau daya tahan jantung dan
paru-paru (cardiovascular endurance).
2.
Daya tahan otot (muscle endurance)
3.
Kekuatan otot (muscle strength)
4.
Kelentukan (flexibility)
5.
Komposisi tubuh (body composition)
6.
Kecepatan gerak (speed of movement)
7.
Kelincahan (agility)
8.
Keseimbangan (balance)
9.
Kecepatan reaksi (reaction time)
10. Koordinasi (coordination)
Sejumlah ahli kesehatan olahraga sependapat bahwa dari
10 komponen tersebut di atas, komponen daya tahan jantung dan paru-paru adalah
komponen terpenting dalam menentukan kesegaran jasmani seseorang.
Daya tahan jantung dan paru-paru adalah suatu kemampuan tubuh untuk bekerja dalam waktu lama tanpa mengalami kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut. Daya tahan jantung dan paru-paru umumnya diartikan sebagai ketahanan terhadap kelelahan dan kemampuan pemulihan segera setelah mengalami kelelahan. Daya tahan yang tinggi dapat mempertahankan penampilan dalam jangka waktu yang relatif lama secara terus menerus.
Evaluasi Kesegaran Jasmani
Sejumlah protokol tes kesegaran jasmani yang ada,
khusus untuk mengukur satu komponen tertentu kesegaran jasmani, tetapi ada juga
metode tes yang dapat digunakan untuk mengevaluasi beberapa komponen kesegaran
jasmani dalam satu rangkaian tes. Masing-masing protokol tes mempunyai
kelebihan dan kelemahan. Hal ini tergantung dari masing-masing kebutuhan yang
hendak dicapai dalam evaluasi kesegaran jasmani. Evaluasi kesegaran jasmani
yang dilaksanakan terhadap seorang atlit tentu akan berbeda dengan masyarakat
umum.
Latihan Jasmani
Latihan jasmani yang teratur sesuai kaidah yang
berlaku dapat meningkatkan kesegaran jasmani, antara lain:
1. Dampak latihan jasmani terhadap tubuh
·
Meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru
·
memperkuat sendi dan otot
·
Menurunkan tekanan darah
·
Mengurangi lemak
·
Memperbaiki bentuk tubuh
·
Memperbaiki kadar gula darah
·
Mengurangi risiko penyakit jantung koroner
·
Memperlancar aliran darah
·
Memperlancar pertukaran gas
·
Memperlambat proses menjadi tua
2. Prinsip latihan jasmani
·
Pembebanan lebih - untuk dapat menghasilkan kesegaran
jasmani yang baik perlu diberikan beban kerja yang lebih dari yang biasa
dilakukan.
·
Pengkhususan - untuk tujuan tertentu diperlukan jenis
latihan yang tertentu pula.
·
Riversibilitas - kemajuan hasil latihan dapat menjadi
hilang, jika lama tidak aktif berlatih
·
Pemeliharaan - hasil latihan harus dipelihara dengan
tetap berlatih pada intensitas dan frekuensi yang telah ditempuh.
3.
Dosis Latihan
·
Frekuensi : 3-5 seminggu
·
Intensitas (zona latihan) : 60-90 % dari DNM (denyut
nadi maksimal)
·
Lama latihan : 20-60 menit, kontinyu dan melibatkan
otot-otot besar.
Salah satu cara untuk menghitung intensitas latihan berdasarkan tolok ukur
“Nadi”, adalah sebagai berikut.
Intensitas latihan = 60 s.d. 90 % x
{(220-usia(tahun)}
|
atau
|
Intensitas latihan = 65 s.d. 75 % x (nadi cadangan +
nadi istirahat)
|
Keterangan:
Nadi cadangan = DN Max - DN istirahat
Nadi maksimum = 220 - usia (tahun)
Nadi istirahat = Nadi yang dihitung, saat seseorang dalam keadaan istirahat
DN = Denyut nadi
Nadi cadangan = DN Max - DN istirahat
Nadi maksimum = 220 - usia (tahun)
Nadi istirahat = Nadi yang dihitung, saat seseorang dalam keadaan istirahat
DN = Denyut nadi
Contoh menentukan intensitas latihan:
Seseorang dengan usia 45 tahun, maka intensitas/denyut nadi waktu berlatih hendaknya berkisar antara 105 - 158 per menit. 60 x (220-45) = 105 - 90 x (220-45) = 158 100 100
Seseorang dengan usia 45 tahun, maka intensitas/denyut nadi waktu berlatih hendaknya berkisar antara 105 - 158 per menit. 60 x (220-45) = 105 - 90 x (220-45) = 158 100 100
Bentuk dan Cara Pengukuran
Ada beberapa bentuk tes yang dapat digunakan untuk
mengukur kesegaran jasmani anda. Beberapa bentuk tes yang dapat dilakukan
sendiri dan ada pula yang memerlukan bantuan tenaga dan pendamping yang khusus.
Beberapa bentuk tes yang dapat digunakan untuk mengukur kesegaran jasmani Anda
diantaranya adalah :
Kelebihan berat badan dapat berpengaruh buruk terhadap
kesehatan maupun penampilan/estetika.
Bagaimana
sebaiknya berat badan kita ?
Berat badan ideal = 90 % x (tinggi badan - 100) |
formula BROCCA
atau
Berat badan yang proporsional dibandingkan tinggi
badannya adalah antara 80 % - 120 % dari tinggi badan dikurangi 100.
Contoh:
Sdr. Tommy, tinggi badan 170 cm. Berapa berat badan yang proporsional bagi Tommy?
Berat badan max = 120 % x (170 - 100) = 84 kg
Berat badan min = 80% x (170 - 100) = 56 kg
Bila lebih dari 84 kg, berarti ‘terlalu gemuk’ Bila kurang dari 56 kg, berarti ‘terlalu kurus’
Sdr. Tommy, tinggi badan 170 cm. Berapa berat badan yang proporsional bagi Tommy?
Berat badan max = 120 % x (170 - 100) = 84 kg
Berat badan min = 80% x (170 - 100) = 56 kg
Bila lebih dari 84 kg, berarti ‘terlalu gemuk’ Bila kurang dari 56 kg, berarti ‘terlalu kurus’
Denyut nadi dapat dipakai sebagai tolok ukur kondisi
jantung. Jadi, penting untuk diketahui. Denyut nadi adalah frekuensi irama
denyut/detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) di permukaan kulit pada
tempat-tempat tertentu. Frekuensi denyut nadi pada umumnya sama dengan
frekuensi denyut/detak jantung.
Tempat meraba denyut nadi
Denyut nadi dapat dipalpasi pada beberapa tempat,
misalnya:
1.
Di pergelangan tangan bagian depan sebelah atas
pangkal ibu jari tangan (arteri radialis).
2.
Di leher sebelah kiri/kanan depan otot sterno cleido
mastoideus (arteri carolis).
3.
Di dada sebelah kiri, tepat di apex jantung (arteri
temperalis) Cara menghitung denyut nadi pada arteri carolis
4.
Di pelipis Gambar orang sedang meraba denyut nadi di
leher
Hal-hal yang dapat diperiksa pada denyut nadi
1.
Frekuensinya (berapa denyut per nadi)
2.
Isinya
3.
Iramanya (teratur/tidak teratur)
·
Frekuensi nadi akan meningkat bila kerja jantung
meningkat.
·
Bila kita berlatih, maka dengan sendirinya frekuensi
denyut nadi akan semakin cepat sampai batas tertentu sesuai dengan beratnya
latihan yang dilakukan.
·
Setelah latihan selesai, frekuensi nadi akan turun
lagi.
·
Orang yang terlatih, nadi istirahatnya lebih lambat
dibandingkan dengan orang yang tidak terlatih.
Cara menghitung denyut nadi
Penghitungan denyut nadi secara manual dapat dilakukan
dengan cara:
1.
Nadi dihitung selama 6 detik; hasilnya dikalikan 10
atau
2.
Nadi dihitung selama 10 detik; hasilnya dikalikan 6
atau
3.
Nadi dihitung selama 15 detik; hasilnya dikalikan 4
atau
4.
Nadi dihitung selama 30 detik; hasilnya dikalikan
Pada orang dewasa normal, denyut nadi saat istirahat
berkisar antara 70 - 80 denyut setiap menit. Penghitungan denyut nadi juga
dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut “Pulse-Monitor” atau
“Pulse-Meter”, yaitu alat elektronik yang dapat digunakan untuk mengukur
frekuensi nadi setiap menit.
Denyut nadi yang perlu diketahui
1.
Nadi Basal (nadi saat baru bangun tidur, sebelum
bangkit dari tidur)
2.
Nadi Istirahat (nadi waktu tidak bekerja)
3.
Nadi Latihan (nadi saat latihan fisik)
4.
Nadi Pemulihan (nadi setelah selesai latihan fisik).
Lemak akan memberikan andil pada keindahan bentuk
tubuh bila jumlahnya tepat dan sesuai dengan letaknya. Oleh karena itu,
persentasi lemak perlu diukur. Persentasi lemak tubuh tergantung pada jenis
kelamin, usia, keturunan dan aktivitas seseorang.
Tabel 1 : Norma Persentasi Lemak Tubuh (Pria)
Usia
|
Persentasi Lemak Tubuh
|
s.d. 30 tahun30 - 50 tahun50 - 70 tahun
|
9 - 15 %11 - 17 %12 - 19 %
|
Tabel 2 : Norma Persentasi Lemak Tubuh (Wanita)
Usia
|
Persentasi Lemak Tubuh
|
s.d. 30 tahun30 - 50 tahun50- 70 tahun
|
1 - 21 %15 - 23 %16 - 26 %
|
Fungsi Lemak Tubuh
1.
Sebagai cadangan makanan
2.
Pelindung organ-organ bagian dalam
3.
Membantu memberi garis bentuk tubuh
Alat yang dipergunakan untuk mengukur persentasi lemak
bagian bawah kulit
1.
Skin fold caliper
2.
Alat tulis
3.
Tabel prakiraan persentasi lemak
Bagian tubuh yang diukur
1.
Bagian belakang lengan atas (triceps)
2.
Bagian depan lengan atas (biceps)
3.
Di bawah tulang belikat (sub scapula)
4.
Di atas kristailiaka (supra iliaca)
Untuk mengetahui persentasi lemak tubuh bisa digunakan
salah satu tempat saja sebagai tempat pengukuran atau keempat tempat tersebut
di atas.
Cara pengukuran
1.
Kulit di tempat yang diukur dicubit dengan tangan kiri
sedemikian rupa, sehingga yang dicubit hanyalah lipatan kulit dan lemaknya saja
tanpa mengikutkan lapisan otot dibawahnya.
2.
Tangan kanan memegang Caliper untuk menjepit lapisan
kulit yang telah dicubit dengan tangan kiri. Dengan telah terjepitnya lapisan
kulit dan lemak bawah kulit dapat dibaca pada skala yang ada pada Skin Fold
Caliper berapa milimeter tebalnya.
Tujuan
Untuk mengetahui kelentukan seseorang
Alat
·
bangku dengan ukuran tinggi 50 cm
·
mistar panjang dengan ukuran 50 - 60 cm
Cara
- Peserta tidak memakai alas kaki
- Peserta berdiri dengan kaki lurus
- Lutut bagian belakang lurus (lutut tidak boleh ditekuk)
- Pelan-pelan bungkukkan badan dengan posisi tangan lurus ke bawah
menyentuh mistar skala. Usahakan agar ujung jari tangan mencapai skala
sejauh mungkin; sikap ini dipertahankan selama 3 detik.
- Tes dilakukan 2 kali berturut-turut.
Hasil
Hasil yang dicatat adalah angka skala tertinggi yang
dapat dicapai oleh kedua ujung jari dan raihan terjauh dari dua kali raihan
yang menjadi hasil kelentukan seseorang.
Tabel 3 : Norma Penilaian dan Klasifikasi Kelentukan
No
|
Klasifikasi
|
Prestasi (cm)
|
1
2 3 4 5 |
Baik sekali
Baik Sedang Kurang Kurang Sekali |
lebih dari 19
11.5 s.d. 19 -1.5 s.d. 11.5 -6.5 s.d. -1.5 lebih dari -6.5 |
·
Pengukuran Kekuatan Otot
·
Pengukuran Daya Ledak Otot (Power)
·
Pengukuran Fungsi Paru
·
Pengukuran Daya Tahan Jantung dan Paru-Paru
·
Pengukuran Prediksi Nilai VO2 max
1) Hakikat Latihan Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan otot untuk melakukan
kontraksi guna membangkitkan ketegangan terhadap suatu tahanan. Kekuatan otot
adalah komponen yang sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik secara
keseluruhan.
2) Hakikat Latihan Kelentukan (flexibility)
Kelentukan diartikan sama dengan keleluasan atau
kemudahan gerakan, terutama pada otot-otot persendian. Latihan kelentukan atau
fleksibilitas bertujuan agar otot-otot pada sendi tidak kaku dan dapat bergerak
dengan leluasa, tanpa ada gangguan yang berarti.
Tudor O Bompa dalam bukunya “Terjemahan Buku Therory
And Methodology Of Training” menjelaskan bahwa :
Latihan adalah aktivitas
olahraga yang sistematik dalam jangka waktu lama, ditingkatkan secara progresif
dan individu yang mempengaruhi kepada ciri- ciri fungsi fisiologi manusia untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan
pernafasan (respirasi) adalah suatu proses pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida antara sel
dengan lingkungannya.
Secara
sederhana gerakan pernafasan dapat di bagi atas dua bagian yaitu :
A. Inspirasi
Merupakan
suatu gerakan aktif yang didominasi oleh diafragma merupakan
otot yang memegang peran utama dalam proses inspirasi, seedangkan
otot kecil lainnya berfungsi menstabilkan kedudukan dinding thoraks serta
menambahefesiensi dari gerakan pernafasan. Otot-otot yang
meninggikan rangka dapat diklasifikasikan sebagai otot inspirasi yaituscleneus ialah
meninggikan iga kesatu dan kedua, sternocloidomastoideus berfungsi
mengangkat sternum, otot seratus anterior mengangkat anterior mengangkat
sebagian besar iga dan interkostal eksternus.
B. Ekspirasi
Selama ekspirasi diafragma
relaksasi dan sifat elastis daya lenting paru,
dinding dada dan isi perut menekan paru-paru, pada saat bernafas hebat tenaga
tenaga elastis tidak cukup kuat untuk menyebabkan ekpirasi,
sehingga diperlukan sebagian besar oleh kontaksi otot–otot
perut, yang mendorong isi perut keatas melawan dasar diafragma.
Otot-otot yang menurunkan rangka dada sebagai otot ekspirasi, yaitu
otot rektus abdominus yang menarik iga-iga kebawah
pada waktu yang sama otot-otot ini dan otot intercostalis internus.
Joging berasal dari bahasa Inggris, yaitu jogging yang
artinya bergerak maju dengan setengah berlari, dengan
kecepatan yang lebih tinggi dari berjalan biasa dan lebih rendah dari berlari
Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pembelajaran yang didesain untuk meningkatkan kebugaran
jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku
hidup aktif, dan sikap sportif melalui kegiatan jasmani.
Menurut Aip Syarifuddin,. Dalam bukunya Belajar
Aktif Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Olahraga adalahsuatu
bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan
kegiatan intensif dalam rangka memperoleh relevansi kemenangan dan prestasi
optimal
WARMING UP adalah
menyiapkan organ tubuh atlit agar secara fisiologis dan psikologis siap
menerima beban latihan pada bagian inti nanti. Secara garis besar dapat berisi
sebagai berikut :
1.
Memperlancar sirkulasi darah, melebarkan
kapiler/mempelancar pergantian udara diparu-paru.
2.
Penguluran dan mempertinggi kontraksi otot.
3.
Melemaskan persendian.
HIV (Humman Immunodeficiency Virus) yaitu Virus atau jasad renik yang sangat kecil menyerang
system kekebalan tubuh manusia
Virus HIV dapat di tularkan dengan cara
a.
transfusi darah
b.
melalui hubungan seksual dengan mengidap virus HIV
c.
melalui jarum suntik bersamaan
d.
penularan ibu hamil yang mengidap virus HIV kepada
anaknya
Fungsi Sel darah putih bagi tubuh manusia…
a.
membunuh kuman
b.
kekebalan tubuh
c.
membunuh bibit penyakit
“Rasulullah S.a.w. bersabda : “Barang siapa sehat badannya, damai
hatinya (jiwa) dan punya makanan untuk sehari-harinya (sosial ekonomi), maka
seolah-olah dunia seisinya dianugerahkan kepadanya”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu
Majah)
Disadur dari Blog rachmat, S.Or
Tidak ada komentar:
Posting Komentar